·
Kefir
Proses fermentasi kefir menggunakan starter biji
kefir (kefir grain/kefir
granule), yaitu, butiran
putih atau krem
dari kumpulan bakteri dan beberapa
jenis ragi. Bakteri berperan
untuk menghasilkan asam laktat, sedangkan
ragi dapat menghasilkan
gas asam arang
atau karbon dioksida dan sedikit alkohol. Kombinasi karbon dioksida
dengan sedikit alkohol itulah yang menciptakan rasa
alkohol dan soda sehingga memunculkan karakter mendesis jika
kefir dirasakan dalam rongga mulut. Komposisi
dan kadar nutrisi
kefir adalah :
air (89,5%), lemak
(1,5%), protein (3,5%), abu (0,6%),
laktosa (4,5%) dan pH 4,6.
Banyak sedikitnya asam laktat dan
alkohol dalam kefir sangat dipengaruhi oleh kadar laktosa bahan baku, jenis
mikroba starter, dan lama fermentasi. Bahan baku susu yang berkadar lemak
tinggi menghasilkan kefir dengan kadar lemak tinggi pula. Proses fermentasi kefir
bisa mencapai 24-48 jam. Saat proses fermentasi berlangsung, Bakteri asam laktat akan menguraikan laktosa
menjadi asam laktat. Asam laktat menyebabkan
penurunan pH sehingga kefir bercita rasa masam. Disamping penguraian laktosa
terjadi juga penguraian protein
susu menjadi komponen yang lebih kecil,
yaitu asam amino. Asam amino juga
berkontribusi menurunkan nilai pH. Dengan demikian, semakin lama proses fermentasi, semakin masam
pula cita rasa
kefir. Kondisi masam kefir erat hubungannya
dengan kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan dan memiliki daya
penyembuhan.Selama proses fermentasi,
disamping terjadi penurunan pH juga
terbentuk gas CO2 dan senyawa alcohol (0,08-2,0%). Gas ini terbentuk
karena aktivitas mikroorganisme, yaitu ragi. Oleh karena itu, saat proses fermentasi
berlangsung sebaiknya digunakan wadah yang berpenutup tidak terlalu rapat agar gas
yangterbentuk dapat keluar. Setelah proses fermentasi selesai, biji kefir dipisahkan
dan kefir pun dikemas. Pengemasan dapat dilakukan dengan menggunakan botol kaca
ataupun plastik. Untuk membentuk cita rasa yang kuat, biasanya pembuatan kefir
dilanjutkan dengan proses penuaan (aging) dengan fermentasi lanjutan selama 24 jam.
Setelah proses penuan, kefir disimpan dalam kondisi dingin dengan
temperatur 2-50C. Temperatur yang
rendah menyebabkan aktivitas mikroorganisme
berjalan relatif lebih lambat sehingga pembentukan asam laktat berjalan lebih lambat
(Wardana,2012).
·
Yoghurt
Sebagian besar senyawa
alam terdegradasi oleh beberapa jenis mikroba dan bahkan banyak senyawa buatan
manusia juga diserang oleh bakteri. Terjadi dalam lingkungan tanpa oksigen
(atau kondisi untuk reaksi redoks yang cocok), degradasi ini mengakibatkan
terjadinya fermentasi.Meskipun banyak metode yang menggunakan bakteri untuk
melakukan fermentasi terhadap senyawa organik, tetapi pada dasarnya yang
terjadi pada semua fermentasi adalah NAD+ hampir selalu direduksi menjadi NADH.
Metabolisme yang melibatkan oksidasi substrat, elektron dari molekul organik
akan paling sering diberikan ke NAD. (Hal ini berlaku baik dalam fermentasi dan
respirasi). Di bawah ini ditampilkan contoh pengurangan NAD

Oksidasi gliseraldehida-3-fosfat untuk 1,3 bisphosphoglycerate.
Elektron akan dihapus dari karbon dilambangkan dengan warna merah dan
disumbangkan ke NAD +.
Fermentasi menghasilkan banyak NADH. Akumulasi NADH menyebabkan
masalah pad areaksi anaerob. NADH yang terlalu banyak akan mencegah oksidasi
lebih lanjut dari substrat karena kurangnya + NAD untuk menerima elektron.
Dalam jalur fermentasi banyak, langkah-langkah setelah produksi energi
dilakukan sebagian untuk menyingkirkan NADH tersebut. Piruvat sebagai perantara
penting Banyak reaksi yang pada akhirnya menghasilkan piruvat. Piruvat adalah
perantara yang berharga karena dapat digunakan untuk sintesis sel dan enzim
yang berbeda dapat bertindak di atasnya. Ini memberikan fleksibilitas mikroba. Energi
berasal dari Substrat-Tingkat Fosforilasi (SLP) Substrat diubah menjadi senyawa
terfosforilasi dan dalam reaksi selanjutnya fosfat energi tinggi ditransfer ke
ATP. Fermentasi dapat melibatkan setiap
molekul yang dapat mengalami oksidasi. Substrat umum termasuk gula (seperti
glukosa) dan asam amino. Produk khas tergantung pada substrat tetapi bisa
termasuk asam-asam organik (asam laktat, asam asetat), alkohol (etanol,
metanol, butanol), keton (aseton) dan gas (H2 dan CO2) (Rizky,2012).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar